Prosesi Adat Santiago Keraton Kesultanan Buton

Pendahuluan

Kesultanan Buton merupakan salah satu kerajaan maritim yang berpengaruh di Nusantara, khususnya di wilayah Sulawesi Tenggara. Kesultanan ini memiliki berbagai tradisi dan adat istiadat yang masih dijaga hingga saat ini. Salah satu prosesi adat yang paling sakral dan unik adalah Santiago, yang merupakan bagian dari upacara penting dalam sistem pemerintahan dan adat Kesultanan Buton.

Sejarah dan Makna Santiago

Santiago adalah prosesi adat yang memiliki nilai filosofis dan historis mendalam dalam kehidupan masyarakat Buton. Kata Santiago berasal dari bahasa lokal yang bermakna "pertemuan" atau "musyawarah penting." Upacara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin tertinggi, yaitu Sultan, sekaligus menjadi simbol ketaatan, solidaritas, dan persatuan masyarakat Buton.

Prosesi ini telah berlangsung sejak zaman Kesultanan Buton masih berkuasa dan terus dipertahankan hingga kini sebagai bagian dari warisan budaya. Santiago juga mencerminkan prinsip Sara Pataanguna, yaitu sistem hukum dan tata pemerintahan Buton yang mengedepankan musyawarah, kebijaksanaan, dan kepemimpinan kolektif.

Tujuan Prosesi Santiago

Santiago memiliki beberapa tujuan utama, di antaranya:

  1. Meneguhkan Kesetiaan kepada Sultan – Santiago menjadi ajang bagi para pejabat adat, pemuka masyarakat, dan rakyat untuk menunjukkan loyalitas kepada Sultan.
  2. Musyawarah dan Evaluasi Pemerintahan – Dalam prosesi ini, berbagai keputusan strategis dan evaluasi pemerintahan dibahas oleh para pemangku adat.
  3. Meneguhkan Identitas Budaya Buton – Santiago memperkuat identitas masyarakat Buton dan menjadi bagian dari pelestarian budaya lokal.
  4. Momentum Spiritualitas – Prosesi ini juga memiliki unsur keagamaan dan spiritual yang kuat, karena diiringi dengan doa-doa dan ritual tertentu.

Tahapan Prosesi Adat Santiago

Prosesi adat Santiago terdiri dari beberapa tahapan utama yang harus dilaksanakan dengan penuh khidmat. Berikut adalah tahapan-tahapan dalam prosesi ini:

1. Persiapan dan Undangan

Prosesi dimulai dengan persiapan dan penyebaran undangan kepada para pemuka adat, pejabat kesultanan, dan masyarakat yang memiliki peran dalam acara tersebut. Undangan ini biasanya disampaikan oleh Bonto Ogena (perwakilan kesultanan yang bertugas menyebarkan pesan resmi Sultan).

2. Upacara Pembukaan

Acara pembukaan dilakukan dengan prosesi adat yang melibatkan:

  • Doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama dan ulama Buton.
  • Pengibaran bendera kebesaran Kesultanan Buton sebagai simbol kejayaan dan keberlanjutan nilai adat.
  • Penyerahan simbol kehormatan seperti tombak atau keris kepada Sultan sebagai bentuk penghormatan.

3. Penghormatan kepada Sultan

Dalam tahap ini, para pemangku adat, pejabat kesultanan, dan masyarakat akan memberikan penghormatan kepada Sultan. Penghormatan ini dilakukan dengan cara tunduk sambil mengangkat tangan ke dada, sebagai simbol kesetiaan dan penghormatan terhadap pemimpin tertinggi.

4. Musyawarah dan Penyampaian Laporan Pemerintahan

Santiago juga menjadi momen bagi para pemimpin adat dan pejabat untuk membahas berbagai hal penting terkait pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Beberapa agenda yang dibahas dalam musyawarah ini meliputi:

  • Evaluasi kebijakan pemerintahan.
  • Penyampaian aspirasi masyarakat.
  • Penetapan peraturan adat baru jika diperlukan.
  • Pembagian tugas bagi pejabat adat.

5. Pembacaan Sumpah Adat

Sebagai bentuk ketaatan terhadap hukum adat dan nilai-nilai kesultanan, seluruh peserta Santiago akan membacakan sumpah adat. Sumpah ini mengandung nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab dalam menjalankan pemerintahan dan kehidupan sosial.

6. Ritual Adat dan Doa Penutup

Setelah musyawarah selesai, prosesi diakhiri dengan ritual adat yang biasanya melibatkan:

  • Pembacaan doa penutup oleh pemuka agama.
  • Persembahan kepada leluhur sebagai bentuk penghormatan terhadap pendahulu.
  • Pelepasan simbol-simbol adat seperti bendera atau tombak yang menandai berakhirnya prosesi.

Simbolisme dalam Prosesi Santiago

Prosesi Santiago kaya akan simbol-simbol adat yang memiliki makna mendalam, di antaranya:

  • Tombak dan Keris – Melambangkan kekuatan dan kebijaksanaan pemimpin.
  • Bendera Kesultanan – Menunjukkan kedaulatan dan identitas Kesultanan Buton.
  • Pakaian Adat Buton – Mencerminkan kebesaran dan keluhuran budaya Buton.
  • Lantunan Doa dan Zikir – Menggambarkan hubungan erat antara adat dan nilai-nilai keislaman dalam masyarakat Buton.

Peran Tokoh dalam Prosesi Santiago

Beberapa tokoh adat yang memiliki peran penting dalam Santiago antara lain:

  • Sultan Buton – Pemimpin tertinggi yang menjadi pusat dari seluruh prosesi.
  • Bonto Ogena – Pejabat yang bertugas sebagai pembawa pesan Sultan.
  • Kapitalao – Pemimpin perang yang berperan dalam aspek keamanan.
  • Panglima Adat – Bertanggung jawab atas pelaksanaan hukum adat.
  • Ulama dan Pemuka Agama – Memimpin doa dan memberikan nasihat spiritual.

Relevansi Santiago dalam Kehidupan Modern

Meskipun Kesultanan Buton tidak lagi berkuasa secara politik, prosesi Santiago tetap memiliki relevansi dalam kehidupan modern. Beberapa aspek yang masih dipegang teguh hingga kini meliputi:

  • Musyawarah dan Demokrasi Lokal – Santiago mengajarkan pentingnya musyawarah dalam pengambilan keputusan.
  • Pelestarian Budaya – Prosesi ini menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Buton.
  • Penguatan Identitas dan Solidaritas Sosial – Santiago memperkuat rasa kebersamaan dalam masyarakat Buton.
  • Nilai Keagamaan dan Spiritual – Upacara ini tetap mempertahankan unsur religius yang kuat dalam praktik adatnya.

Kesimpulan

Prosesi adat Santiago di Kesultanan Buton adalah warisan budaya yang memiliki makna mendalam dalam sistem pemerintahan, sosial, dan spiritual masyarakat Buton. Sebagai salah satu tradisi tertua, Santiago tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada Sultan, tetapi juga sebagai wadah musyawarah dan pengambilan keputusan penting. Hingga kini, Santiago tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat Buton dan menjadi simbol kelestarian budaya Nusantara.

Dengan tetap menjaga dan melestarikan prosesi adat seperti Santiago, masyarakat Buton dapat terus mempertahankan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka, sekaligus menjadikan adat sebagai pedoman dalam kehidupan modern yang semakin kompleks.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama